
Setelah membaca text chat dari Malvin, Milya segara turun dari kasurnya dan duduk di depan meja rias. Gadis itu memperhatikan wajahnya yang masih terlihat cantik walaupun tidak menggunakan make-up seharian ini.
“Pake bedak dikit kali yaa” Kata gadis itu, ia meraih bedak tabur lalu memakainya.
Ia kembali memperhatikan wajahnya di depan cermin. Sudah memakai bedak tetapi Milya masih merasa kurang.
Ah bibir dia pucat sekali, seperti orang sakit! “Ahh iya, liptint.” Gadis itu mengoleskan liptint dibibir merah mudanya.
“Not bad lah yaa..” Ucapnya setelah menyadari penampilannya terlihat lebih baik dibanding tadi.
Tidak lupa gadis itu juga merapihkan rambutnya. Ia sisir rambutnya dengan hati-hati, setelah selesai dengan urusan rambut, Milya meraih parfum merek Dior lalu menyemprotkan di seluruh tubuhnya.
Wangi semerbak sangat menguat di kamar gadis itu.
Milya terdiam, bingung dengan kelakuannya saat ini. kenapa gue serepot ini? padahal cuman mau ngasih kak Malvin cookies. Batinnya.
*ting
Bunyi notifikasi memecahkan lamunannya. Milya meraih ponselnya dan melihat dari siapa notif yang baru masuk tadi.
“gua udah di depan” itu notif dari Malvin. Notif yang membuat Milya saat ini lari terbirit-birit keluar kamar, menuju lantai bawah dan tak lupa ia mengambil kotak cookies yang sudah ia siapkan untuk Malvin.
“Hai kak!” Sapa Milya, saat sudah berada di depan Malvin.
“Hai..” Oh tidak, Malvin kurang fokus. Ia merasa gugup setiap kali berinteraksi dengan Milya.
Saat ini Malvin melihat Milya hanya menggunakan celana panjang dengan kaos lengan pendek oversize, ia **berdecak sebal. “Kenapa ngga pake jaket?” Tanya Malvin.
Milya tidak menjawab, ia hanya membalas dengan cengirannya.
Malvin melepaskan jaket yang ia pakai, lalu menyampirkannya lembut di bahu Milya.
Milya terdiam. Tiba-tiba Milya merasa salah tingkah. apa yang kak Malvin lakuin? itu kalimat yang ada di benaknya saat ini.
“Mau mampir dulu?” Tanya Milya, saat ia sudah bisa menetralkan detak jantungnya.